SEMARANG, Kabarsatu.id – Pelestarian budaya daerah tidak hanya dilakukan melalui upacara adat atau kesenian tradisional, tetapi juga lewat kebiasaan sehari-hari seperti penggunaan bahasa Jawa di lingkungan keluarga.
Hal itu disampaikan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM) UIN Walisongo Semarang, Dr. In’amuzzahidin, M.Ag atau yang akrab disapa Gus In’am.
Ia mengajak masyarakat, khususnya para orang tua, untuk membiasakan anak-anak berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa di rumah.
Menurutnya, langkah sederhana tersebut sangat penting agar bahasa daerah tetap hidup dan tidak tergerus perkembangan zaman.
Gus In’am menilai saat ini banyak keluarga lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari, bahkan di luar lingkungan pendidikan formal.
Kondisi itu, menurutnya, dapat membuat generasi muda semakin jauh dari akar budayanya sendiri.
Ia mengingatkan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga bagian dari identitas suatu daerah.
Selain itu, bahasa Jawa juga mengandung nilai kesopanan dan tata krama yang penting untuk pembentukan karakter anak.
“Bahasa Indonesia memang digunakan untuk memudahkan proses belajar di sekolah dan kampus, tetapi bahasa Jawa harus tetap dibiasakan di rumah agar tidak hilang,” ujarnya saat menjadi narasumber dalam Bimbingan Teknis Penelusuran dan Penyelamatan Naskah Kuno yang digelar Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Semarang di Hotel Grasia, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, kemampuan memahami bahasa Jawa juga sangat membantu dalam membaca dan menelaah naskah kuno yang banyak ditulis menggunakan bahasa daerah.
Karena itu, menjaga bahasa Jawa berarti juga ikut merawat warisan intelektual masa lalu.
Selain itu, ia mendorong masyarakat untuk lebih aktif mengadakan kajian ilmiah mengenai naskah kuno dan tokoh-tokoh lokal.
Menurutnya, keberadaan komunitas pecinta sejarah sangat penting dalam menghidupkan kembali warisan keilmuan tersebut.
Ia mencontohkan komunitas seperti Komunitas Pencinta Mbah Hasyim Asy’ari (Kopi Khas) dan Komunitas Pencinta Mbah Muslih bin Abdurrahman (Kopi Mulia) yang mampu menghadirkan banyak diskusi dan kajian berbasis sejarah tokoh.
“Jika setiap daerah memiliki komunitas yang serius merawat warisan sejarahnya, maka akan semakin banyak tokoh besar yang bisa digali dan dikenalkan kepada generasi muda,” jelasnya.
Gus In’am menambahkan, naskah kuno menjadi bukti ketulusan para ulama dan tokoh terdahulu dalam menyebarkan ilmu pengetahuan.
Mereka menulis bukan demi keuntungan, melainkan untuk meninggalkan ilmu yang bermanfaat bagi generasi selanjutnya.
“Dulu tidak ada royalti dalam menulis. Mereka menulis dengan niat menjaga ilmu pengetahuan. Karena itu, kita wajib mempelajari dan merawatnya,” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Komunitas Pencinta Mbah Sholeh Darat (Kopi Soda), Moh. Ichwan Dwi Saputro, menekankan pentingnya upaya penyelamatan naskah kuno agar tidak hilang atau bahkan diklaim oleh negara lain.
Ia menjelaskan bahwa sejumlah ulama Nusantara memiliki jaringan keilmuan hingga luar negeri, sehingga beberapa kitab dan manuskrip dicetak atau tersebar di berbagai negara. Kondisi itu memerlukan perhatian serius dari pemerintah.
Menurutnya, negara perlu menyiapkan anggaran khusus untuk melindungi dan menyelamatkan naskah kuno yang diperjualbelikan agar tetap menjadi bagian dari warisan bangsa.
Ia juga mengajak masyarakat yang masih menyimpan naskah kuno untuk segera melakukan pengarsipan dan digitalisasi melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Semarang.
Dengan digitalisasi, naskah asli tetap aman tersimpan, sementara versi digital dapat menjadi cadangan apabila dokumen asli mengalami kerusakan akibat usia maupun faktor lainnya.
“Silakan menghubungi dinas kearsipan agar dibuatkan versi digital. Dengan begitu, isi dan nilai sejarah naskah tetap terjaga untuk masa depan,” pungkasnya.







