SEMARANG, Kabarsatu.id – Camat Ngaliyan, Moeljanto, menegaskan dukungannya terhadap pelestarian tradisi Ruwatan Silayur yang kembali digelar setelah vakum selama 46 tahun.
Tradisi budaya ini rutin berlangsung pada bulan Dzulqa’dah dalam kalender Hijriah atau bulan Apit dalam penanggalan Jawa.
Dalam kesempatan itu, Moeljanto menyampaikan permohonan maaf karena pada pelaksanaan perdana tahun ini pihak kecamatan belum dapat memberikan bantuan pendanaan.
Namun, ia memastikan dukungan anggaran akan diupayakan pada tahun 2027 mendatang.
“Nanti tahun 2027 kami akan support bantuan anggaran,” ujar Moeljanto saat jeda pagelaran wayang kulit dengan lakon Wahyu Katentreman di RW 04 Silayur Lawas Duwet, Ngaliyan, Kota Semarang, Sabtu (16/5/2026) malam.
Ia mengapresiasi semangat warga RW 04 Silayur Lawas Duwet yang tetap menjaga tradisi ruwatan secara gotong royong meski tanpa dukungan anggaran dari pemerintah pada tahun ini.
“Mohon maaf untuk pelaksanaan perdana ini kami belum bisa membantu pendanaan. Insya Allah tahun depan akan kami anggarkan,” katanya.
Selain menjaga warisan budaya leluhur, Moeljanto juga menilai kegiatan wayangan membawa dampak positif bagi perekonomian warga, terutama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang ikut meramaikan acara.
Ia berharap jumlah pelaku UMKM yang terlibat terus bertambah agar manfaat ekonomi semakin dirasakan masyarakat sekitar.
“Pesan kami, UMKM harus diperbanyak supaya bisa membantu meningkatkan kesejahteraan warga,” tuturnya.
Sebelumnya, Sekretaris Camat Ngaliyan, Soegiman, juga memberikan apresiasi terhadap rangkaian kegiatan Ruwatan Silayur.
Saat menghadiri sedekah bumi pada sore hari, ia melihat antusiasme masyarakat sangat tinggi, termasuk ramainya stan UMKM yang dipadati pembeli.
Tradisi Ruwatan Silayur berlangsung selama satu hari penuh.
Kegiatan dimulai dengan sedekah bumi pada sore hari, kemudian berlanjut dengan pagelaran wayang kulit pada malam harinya.
Tradisi ini pertama kali digagas oleh Mbah Kromo yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dukuh Silayur.
Berdasarkan cerita para sesepuh, ruwatan sudah berlangsung sejak era 1960-an hingga sekitar tahun 1980.
Setelah Mbah Kromo wafat, tradisi tersebut diteruskan oleh Mbah Nasir hingga akhirnya kembali terhenti.
Masyarakat kemudian menghidupkan kembali tradisi ini sebagai bentuk ikhtiar bersama, terutama karena kawasan tanjakan Silayur kerap menjadi lokasi kecelakaan lalu lintas, baik ringan maupun yang menelan korban jiwa.
Karena tingginya angka kecelakaan, tanjakan Silayur bahkan dikenal dengan sebutan “tanjakan tengkorak”.
Berbagai cerita mistis pun sering muncul setiap kali terjadi insiden di lokasi tersebut.
Melalui Ruwatan Silayur, warga memanjatkan doa bersama agar terhindar dari bala, diberikan keselamatan bagi para pengguna jalan, serta menghadirkan ketenteraman dan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.







