SALATIGA, Kabarsatu.id — Di tengah derasnya perkembangan teknologi digital yang semakin melekat dalam kehidupan pelajar, SMPIT Nidaul Hikmah Salatiga menghadirkan pengalaman berbeda bagi para siswanya.
Sebanyak 102 siswa kelas IX mengikuti program pendidikan karakter bertajuk Live In di Desa Cendana, Kabupaten Purbalingga, selama delapan hari, mulai 27 April hingga 4 Mei 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya sekolah dalam membentuk karakter siswa melalui pengalaman langsung di tengah masyarakat.
Para peserta tidak menginap di hotel maupun tenda, melainkan tinggal bersama keluarga warga setempat sebagai anak asuh.
Mereka menjalani rutinitas layaknya warga desa, mulai bangun sebelum subuh, membantu memasak, mencari kayu bakar, hingga ikut bekerja di sawah dan ladang.
Guru pendamping kegiatan, Ikhsan Fahmi, menjelaskan bahwa program Live In dirancang agar siswa memperoleh pembelajaran nyata yang tidak mereka temukan di ruang kelas.
Menurutnya, kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan siswa terhadap gawai dan berbagai fasilitas serba instan.
Dengan tinggal bersama keluarga asuh, para siswa belajar membangun empati, kemandirian, serta kemampuan menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
“Live In ini menjadi sarana agar anak-anak bisa merasakan langsung kehidupan masyarakat desa. Kami ingin mereka belajar menghargai proses, memahami arti kerja keras, dan memiliki karakter yang lebih kuat sebagai bekal masa depan,” ujar Ikhsan.
Kehadiran para siswa mendapat sambutan hangat dari masyarakat Desa Cendana.
Kepala Desa Cendana, Sujono, menyebut kegiatan seperti ini memberi manfaat besar, baik bagi siswa maupun warga desa.
Ia menilai interaksi antara pelajar dari perkotaan dengan masyarakat pedesaan dapat mempererat hubungan sosial sekaligus memperkenalkan nilai-nilai kehidupan sederhana yang sarat makna.
“Desa kami selalu terbuka untuk menjadi tempat belajar. Anak-anak bisa melihat langsung bagaimana semangat gotong royong, kesederhanaan, dan sopan santun masih sangat dijaga di sini. Nilai-nilai seperti ini penting untuk mereka rasakan sendiri,” kata Sujono.
Salah satu peserta, Avinza Meivano, mengaku awalnya merasa cukup berat mengikuti aktivitas harian di desa.
Ia harus bangun lebih pagi dan ikut membantu pekerjaan rumah hingga ke ladang.
Namun, pengalaman tersebut justru memberinya pelajaran berharga tentang rasa syukur dan kesederhanaan hidup.
“Awalnya memang terasa melelahkan, tetapi saya banyak belajar dari keluarga asuh di sini. Mereka hidup sederhana, namun tetap bahagia dan ikhlas. Dari situ saya jadi lebih menghargai apa yang saya miliki di rumah,” ungkap Avinza.
Melalui program Live In ini, SMPIT Nidaul Hikmah menegaskan komitmennya dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, mental yang tangguh, serta karakter yang kuat.
Di tengah dominasi teknologi modern, pengalaman hidup langsung di masyarakat menjadi bekal penting untuk membentuk pribadi yang lebih utuh.







