PATI, Kabarsatu.id – Polresta Pati mengerahkan sebanyak 1.456 personel gabungan untuk mengawal aksi penyampaian aspirasi dari kelompok nelayan yang berlangsung pada Senin (4/5/2026).
Seluruh personel menjalankan tugas dengan pendekatan humanis dan persuasif agar kegiatan berjalan aman, tertib, dan aspirasi masyarakat tersampaikan dengan baik.
Kapolresta Pati Kombes Pol Jaka Wahyudi memimpin langsung apel kesiapan yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Pati sejak pukul 06.30 WIB.
Apel tersebut melibatkan personel Polri, TNI, serta sejumlah instansi pendukung lainnya.
Dalam arahannya, Kapolresta menegaskan bahwa aparat tidak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga memberikan pelayanan kepada masyarakat yang menyampaikan pendapat secara damai.
Ia menekankan bahwa pendekatan persuasif harus menjadi prioritas utama di lapangan.
Menurutnya, kehadiran aparat harus memberi rasa aman dan kenyamanan bagi masyarakat, bukan menimbulkan ketegangan.
Karena itu, seluruh anggota wajib mengedepankan sikap ramah, santun, dan profesional.
Kapolresta menjelaskan bahwa aksi tersebut membawa sejumlah tuntutan yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah pusat di sektor perikanan.
Para nelayan berharap pemerintah memberi perhatian lebih terhadap harga hasil laut serta kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan mereka.
“Kita harus mengawal aksi ini agar berjalan damai dan aspirasi nelayan bisa tersampaikan dengan baik,” ujar Jaka Wahyudi.
Ia meminta seluruh personel menjaga komunikasi yang baik dengan peserta aksi.
Tidak boleh ada tindakan represif yang dapat memicu suasana tidak kondusif.
Polisi harus hadir sebagai pelayan masyarakat dan penjaga ketertiban.
Kapolresta juga menaruh perhatian besar pada tim negosiator yang berperan penting dalam menjaga stabilitas selama aksi berlangsung.
Tim tersebut mendapat penguatan dari berbagai satuan, termasuk bantuan personel dari Polda Jawa Tengah.
Menurutnya, negosiator harus mampu menjalin komunikasi yang efektif, menyerap aspirasi peserta aksi, serta mencegah munculnya potensi gangguan keamanan.
Ia juga mengingatkan seluruh personel agar waspada terhadap kemungkinan adanya pihak luar yang mencoba menyusup dan membawa kepentingan lain di luar tuntutan utama nelayan.
Deteksi dini dan koordinasi antarpersonel menjadi kunci penting dalam mengantisipasi hal tersebut.
Kapolresta kembali menegaskan bahwa seluruh personel yang bertugas tidak membawa senjata api maupun alat lain yang dapat menimbulkan kesan represif, termasuk tongkat.
Langkah ini bertujuan menjaga suasana tetap sejuk dan humanis.
“Kita hadir untuk melayani masyarakat, bukan untuk menimbulkan rasa takut,” tegasnya.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Artanto menjelaskan bahwa kekuatan personel terdiri dari 1.040 anggota Polresta Pati, 244 personel BKO Polri dari jajaran Polda Jateng, serta 172 personel dari instansi terkait.
Instansi tersebut meliputi TNI, Subdenpom, Satpol PP, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, hingga Damkar. Semua unsur bersinergi untuk memastikan aksi berjalan aman dan tertib.
Artanto menegaskan seluruh personel telah menerima arahan agar menjalankan tugas secara profesional, terukur, dan tetap humanis.
Menurutnya, pengawalan aksi ini merupakan bentuk nyata pelayanan Polri kepada masyarakat.
Dengan kesiapan personel yang matang, penguatan tim negosiator, serta dukungan lintas instansi, Polresta Pati berharap aksi nelayan berlangsung damai, tertib, dan seluruh aspirasi masyarakat dapat tersampaikan secara maksimal.







