BOYOLALI | KabarSatu.id – Panen cabai di Dukuh Stabelan, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, kembali menegaskan posisi Kabupaten Boyolali sebagai salah satu sentra hortikultura di Jawa Tengah. Namun di balik angka produksi yang tinggi, persoalan klasik kesejahteraan petani masih menjadi catatan.
Kegiatan panen bersama yang digelar Kamis (30/4/2026) dihadiri Agus Irawan dan anggota DPR RI Adik Sasongko, sekaligus menjadi ajang evaluasi potensi dan tantangan sektor pertanian cabai di wilayah tersebut.
Bupati Agus menyebut, cabai merupakan komoditas unggulan daerah yang perlu terus didorong pengembangannya. Desa Tlogolele sendiri tercatat memiliki sekitar 217 hektar lahan cabai produktif.
“Harapannya ke depan, produksi semakin baik dan kesejahteraan petani meningkat,” ujarnya.
Data Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali mencatat, pada 2025 luas tanam cabai mencapai 2.108 hektar dengan total produksi 188.011,055 kuintal yang tersebar di 19 kecamatan. Sementara di Kecamatan Selo hingga Maret 2026, produksi cabai rawit mencapai 51 kuintal, cabai merah keriting 739 kuintal, dan cabai merah teropong 27 kuintal.
Anggota DPR RI Adik Sasongko menilai peran petani cabai sangat strategis dalam menopang ekonomi daerah. Ia memastikan dukungan terhadap pembangunan sektor pertanian di wilayah tersebut.
“Petani adalah tulang punggung ekonomi. Kita akan terus kawal pembangunan di Tlogolele,” katanya.
Dalam kesempatan itu, pemerintah juga menyalurkan bantuan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Provinsi Jawa Tengah 2026 kepada sejumlah kelompok tani. Bantuan meliputi pupuk, alat perajang tembakau, kendaraan roda tiga, hingga dukungan hilirisasi cabai.
Namun, bantuan tersebut dinilai baru menyentuh aspek produksi, sementara persoalan harga, distribusi, dan stabilitas pasar masih menjadi tantangan yang kerap dihadapi petani.
Selain panen cabai, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan pencanangan Desa Tlogolele sebagai Desa Cinta Statistik oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Boyolali.
Kepala BPS Boyolali, Teguh Raharjo, menjelaskan bahwa program tersebut bertujuan mendorong desa menghasilkan data yang akurat sebagai dasar pembangunan.
“Pembangunan yang tepat sasaran harus berbasis data yang berkualitas. Desa Cantik hadir untuk mendorong kemandirian desa dalam mengambil keputusan,” ujarnya.
Meski demikian, integrasi data yang kuat tetap perlu diimbangi dengan kebijakan yang berpihak pada petani. Tanpa itu, tingginya produksi berisiko tidak berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan.
Panen raya ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan pertanian tidak hanya diukur dari hasil panen, tetapi juga dari sejauh mana petani mendapatkan nilai ekonomi yang layak dari jerih payahnya.







