BANGKALAN | KabarSatu.id – Di balik lembar-lembar naskah tua yang mulai rapuh, tersimpan jejak panjang pemikiran ulama Nusantara. Namun, tanpa perawatan serius, warisan itu terancam hilang. Kegelisahan inilah yang mendorong Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora UIN Salatiga melakukan kunjungan ke Nahdlatut Turots di Bangkalan, Jawa Timur.
Kunjungan ini menjadi lebih dari sekadar agenda akademik. Ia menjelma sebagai upaya membangkitkan kesadaran bahwa literasi tidak berhenti pada buku-buku baru, tetapi juga berakar pada manuskrip lama yang menyimpan nilai, tradisi, dan cara berpikir para ulama.
Di antara naskah yang dirawat, terdapat karya-karya penting Syaikhona Kholil, tokoh sentral dalam sejarah keilmuan Islam di Nusantara. Sayangnya, tidak sedikit naskah ditemukan dalam kondisi memprihatinkanlapuk, kusam, bahkan nyaris hancur.
Ketua Nahdlatut Turots, Usman Hasan Al-Akhyari, menyebut kondisi ini sebagai peringatan keras bagi semua pihak.
“Banyak naskah disimpan tanpa standar yang memadai. Padahal di dalamnya ada ilmu, sejarah, bahkan identitas kita. Kalau hilang, kita kehilangan lebih dari sekadar dokumen,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pelestarian manuskrip bukan hanya urusan komunitas tertentu, melainkan tanggung jawab bersama. Karena itu, Nahdlatut Turots menerapkan langkah konservasi dan digitalisasi agar naskah tetap dapat diakses di masa depan.
Kerja sama kemudian diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman antara kedua pihak. Kolaborasi ini diharapkan membuka akses bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari sumber asli, sekaligus mendorong lahirnya penelitian berbasis manuskrip.
Dekan FUADAH UIN Salatiga, Supardi, menilai langkah ini sebagai bagian penting dari pendidikan yang berakar pada kesadaran sejarah.
“Mahasiswa perlu memahami bahwa ilmu memiliki jejak. Dengan menyentuh naskah asli, mereka belajar menghargai proses panjang peradaban dan tidak tercerabut dari akar sejarahnya,” katanya.
Meski demikian, tantangan masih besar. Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya manuskrip, ditambah keterbatasan fasilitas, membuat upaya pelestarian berjalan tidak mudah.
Kunjungan ini setidaknya menjadi pengingat: tanpa kepedulian nyata, warisan intelektual yang membentuk wajah Islam Nusantara bisa hilang perlahan. Dan ketika itu terjadi, generasi mendatang mungkin hanya mengenal sejarah dari cerita, bukan dari sumber aslinya.







